Sinode Gereja Presbiterian Evangelikal Indonesia (Sinode GPEI) sebagai bagian dari gereja-gereja di seluruh dunia sungguh merasakan sukacita yang luar biasa setiap kali merayakan hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Sinode GPEI senantiasa menyadari dirinya sebagai organisme ilahi yang berdiri di atas pengakuan Tuhan Yesus sebagai batu penjuru gereja yang bergerak secara independen dan membawa suara kenabian bagi seluruh dunia, khususnya berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristusย  (KPR 1:15-25; 14:23; 15:4; 6; 22 bdk Matius 1:18-25).

Kesadaran inilah yang menjadi motor penggerak bahwa gereja harus menjadi pembawa terang dan berita keselamatan bagi seluruh dunia. Oleh karena itu, gereja harus senantiasa bertindak independen dan tidak boleh terkooptasi oleh siapa pun dan apa pun di dalam menjalankan visi dan misi sorgawinya melalui tiga tiang gerejawi, yaitu: Kesaksian (Marturia), persekutuan (Koinonia) dan pelayananย  (Diakonia).

Kehadiran gereja GPEI di tengah-tengah dunia selama tujuh tahun ini telah menunjukkan komitmennya untuk menyatakan kasih dan kuasa Tuhan melalui tiga tiang gereja tersebut. Akan tetapi, keadaan ekonomi dunia yang saat ini sedang dilanda turbulensi perekonomian telah  membuat pelayanan gerejawi yang dilaksanakan oleh Sinode GPEI terasa semakin berat. Gereja tidak hanya dituntut untuk menyuarakan kebenaran melainkan juga sebagai pioner pemberdayaan umat melalui karya-karya diakonis yang tidak hanya menyentuh aspek teologis melainkan juga aspek sosiologis dan psikologis umat Tuhan.

Gereja-gereja GPEI harus bergerak cepat untuk menjadikan anggota gereja-Nya sebagai komunitas yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan yang ada. Pada sisi lain, para pelayan Tuhan di lingkungan gereja GPEI harus siap menjalankan kegiatan pastoral berupa proses pendampingan yang bersifat intens dan kontinu. Suatu pendampingan yang tidak hanya bersifat kesaksian dan persekutuan belaka melainkan juga tindakan nyata berupa tindakan diakonis sesuai dengan kemampuan gereja masing-masing. Tanpa adanya tindakan diakonis yang nyata maka seluruh proses kesaksian dan persekutuan yang digaungkan akan terasa hampa di hati umat yang kita gembalakan. Akan tetapi, tindakan diakonis yang sekecil apa pun yang dilakukan gereja akan menjadi bukti kebersamaan antara gereja dan umatnya di dalam menghadapi tantangan kehidupan yang ada.

Gereja tidak perlu takut kekurangan hikmat dan sumber daya di dalam membantu anggota gereja karena kita bersama Tuhan yang senantiasa menyediakan yang terbaik bagi umat-Nya (Kej. 22:14: โ€œDan Abraham menamai tempat itu: โ€˜Tuhan menyediakanโ€™โ€ bdk Yakobus 1:17: โ€œSetiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.โ€) Gereja harus berani menjadi pionir di dalam menyikapi keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, bukan hanya dengan perkataan melainkan dengan tindakan nyata.

Gereja harus menyuarakan bahwa keadaan dunia saat ini bukanlah pembenaran untuk kita meninggalkan Tuhan yang senantiasa setia kepada umat-Nya. Situasi yang tidak menentu saat ini seharusnya dijadikan momentum oleh gereja dan umat-Nya untuk mendemonstrasikan kasih dan kuasa-Nya. Dimana umat Tuhan memohon hikmat Tuhan untuk terus berkemenangan di segala situasi dan memohon anugerah Tuhan untuk dapat membuat terobosan-terobosan yang luar biasa di dalam menghadapi tantangan dunia ini.

Hal ini sesuai dengan janji Tuhan yang menyatakan secara tegas bahwa Tuhan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Situasi yang sulit justru menjadi momentum yang terbaik untuk menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang hidup, berkuasa dan peduli kepada Umat-Nya, bukan Tuhan yang mati dan tidak mempedulikan umat-Nya (Mat 1:23b: โ€œโ€ฆ dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.โ€- yang berarti: Tuhan menyertai kita.).

Oleh karena itu, para pemimpin gereja GPEI marilah kita bergandengan tangan dalam doa, komitmen dan tindakan nyata untuk menyatakan Syalom di tengah-tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Tahun 2025 akan segera berakhir dan Tuhan telah menunjukkan kasih setia-Nya sehingga umat Tuhan akan segera melewati tahun 2025 dalam pemeliharaan Tuhan. Marilah kita semua membawa umat Tuhan di lingkungan Sinode GPEI untuk menyambut tahun 2026 dengan penuh keyakinan dan pengharapan bahwa Tuhan akan senantiasa memelihara kita, seperti yang disampaikan Daud Mazmur 23:1-6 โ€œMazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.โ€

Soli Deo gloria
Ps. Heryson, T.M Butar-Butar